Dua kendaraan berpacu disatu poros yang sama, melaju membelah senja yang hampir punah. Dari segala kebetulan yang ada, kamu tidak tau, mengapa kamu harus merasa cemburu pada seorang pemuda yang sepuluh tahun lebih muda dari mu. Dirumah kamu hanya bisa terdiam, karena diperjalanan habis untuk merenungi segalanya, “mom...” dia memanggil mu dengan rasa bersalah yang mendalam. Namun kamu mengabaikannya begitu saja, meletakkan jajanan yang tadi sempat kamu beli diatas meja makan. Kemudian berlalu memasuki kamar, “... mom, yang mommy lihat itu —” ucapannya tak terselesaikan. Kamu mencelah sebelum menutup pintu kamar itu rapat-rapat, “yang dimeja dimakan, kalau gak habis disempen,” nada yang terdengar ketus, sama sekali tidak terdengar seperti bagaimana kamu biasanya. Evan melirik bungkusan itu sesaat, namun bukan itu yang dia inginkan. Da ingin kamu mendengarkan penjelasannya terlebih dahulu, namun tampaknya ini akan jadi misi yang sulit. *** Tok tok... “Mom, boleh aku masuk?” “... Masuk saja, tidak terkunci,” sahut mu dari dalam. Evan masuk, dia datang membawa sepiring makanan yang tadi kamu beli, perlahan langkahnya menghampiri mu, seolah kamu tau dia akan membujuk mu bagaimana pun caranya. “Rasanya bakal lebih enak kalau makannya sama mommy,” ucapnya, mencoba menyuapi mu dengan potongan-potongan kecil. “Saya tidak lapar...” jawaban itu terasa hambar, terlihat jelas kamu masih kepayahan mengatur emosi mu. Pemuda itu menghela nafas sejenak, “soal yang tadi, Runa bukan pacar ku, mom. Kami hanya teman sekelas,” ujarnya polos. Kamu mencoba acuh dengan terus membolak-balikan lembaran majalah yang entah kamu baca atau sekedar pelarian, “lalu, haruskah kamu berbohong pada saya hanya untuk bertemu dia?” ayat tanya mu membuat Evan berfikir sejenak. “Aku tidak berbohong, kami satu tim sungguh latihan disana mommy. Tapi memang yang terakhir pulang adalah aku dan Runa. Dia cerita soal keadaan keluarganya yang tengah hancur, lalu aku mencoba menguatkannya,” jelas Evan, meletakkan piring itu diatas nakas lalu beralih menggenggam lengan mu. melerai jarak antara majalah itu dengan pandangan mu, “apa itu bisa dipercaya?” tanya mu singkat, seperti bagaimana kamu biasa mengintimidasi lewat tatapan mu. Dia mengangguk, pandangan manis itu turun seolah ia benar merasakan ketakutan itu, “aku minta maaf, tidak bilang bahwa akan menjemput Runa di rumahnya, lain kali aku akan katakan dengan jelas kemana dan dengan siapa aku pergi,” penjelasan itu cukup untuk membuat mu tenang saat ini. Lagi pula kamu juga tidak mau membatasi pergaulan Evan, takut bila dia merasa tidak nyaman. “... Apa sekarang aku bisa makan dari suapan mommy?” manik indah itu tau bagaimana kilaunya memancar penuh binar. Tanpa sadar kamu tersenyum, “manja kamu yaa,” kalian terkekeh, mengadu tawa yang sedari tadi terasa hambar. *** Kepingan dari dunia mu perlahan terasa lengkap dengan kehadiran Evan disisi mu, namun kini berbanding terbalik dengan Jay — mantan suami mu itu, telah ditipu habis-hanisan oleh cinta pertamanya. BRAKH! PRANG!!! Seluruh apartemen mewah itu hancur berkeping-keping seperti bencana alam baru saja memporak-porandakannya. Benda mati itu mungkin tidak bisa meneriakkan amarah yang terpendam, namun renyah bagaimana mereka pecah cukup menyayat telinga. “WANITA SIALAN!!!, BERANINYA KAU MENIPU KU!!, JALANG!!” Teriakan depresi penuh keputusasaan dan amarah yang meledak ledak, datang dari wajah terhormat tuan Park. Dia seorang pengelolah bisnis dibidang keuangan, gajinya tak main-main, cukup untuk membuatnya jadi salah satu nama paling berpengaruh di ibu kota. Lalu saat ini, mengapa dia berteriak seolah dunia tidak pernah berpihak padanya?... itu terjadi begitu cepat, atau hanya dia yang terlalu lamban menyadarinya. Calon istrinya yang dimana cinta pertamanya semasa SMA itu, telah menipunya, memeras ratusan juta dolar yang kini dia bawa pergi begitu saja. Jay tidak akan pernah menyangka bahwa bisnis dan reputasi keluarganya hancur dalam sekejap hanya karena satu kebodohan yang dibungkus dengan kata cinta. “KURANG AJAR!!” Biarkan, biarkan tuan Jay meratapi nasibnya kali ini, sampai dia menyadari bahwa kini dia tidak lebih dari seorang pecundang. *** Hari bergulir pelik, dari puluhan usaha yang coba Evan raih, kini waktu yang begitu ia tunggu-tunggu pun datang. Turnamen basket akan diselenggarakan hari ini, selain skill semua peserta wajib menyiapkan kebugaran fisik yang memumpuni. “Uhh...” keraguan itu nampak jelas diwajah Evan, sebagai anggota baru tentu ia takut membuat kesalahan di pertadingan pertamanya. Kamu datang mengusap pucuk kepalanya dan menatap penuh damba, “kamu takut?” tanya mu padanya. Evan mengangguk, “ini yang pertama mommy, bagaimana jika aku membuat tim ku kalah?” tanyanya ragu, di keadaan genting seperti ini. “Kamu harus percaya pada usaha mu, sayang. Mommy ada diatas sana mendukung kamu,” tepukkan dibahu menguatkannya sekali lagi, menatap pada mata mu yang penuh akan harapan-harapan manis untuk Evan. “Kalau aku juara, apa aku bisa dapat hadiah dari mommy?” “Em... boleh,” “Apapun itu?” “Yea, anything for you,” Entah jenis senyum apa itu, yang jelas dia masuk ke arena membawa harapan besar, sedangkan kamu di podium penuh semangat mendukungnya seorang. Dari posisi mu duduk kamu bisa melihat gadis itu ada disana membawa benner bertuliskan kata-kata penyemangat untuk Evan dan timnya. Mereka sempat berbicara lewat gestur tertentu, namun kali ini kamu mencoba untuk mengabaikannya dan tidak boleh lagi menyimpan kecemburuan terhadap Evan. *** Disisi tersengit pertadingan, diluar sana ada Jay. Hari ini pria itu juga hadir di stadion yang sama dengan mu, bukan karena sekarang dia punya anak dan datang sebagai wali murid. Tetapi keberadaannya disini semata-mata hanya untuk menjadi wali pengganti dari keponakannya Riki, secara mengejutkan dan tanpa kamu sadari salah satu anggota dari tim lawan masih berkerabat dekat dengan Jay. Pria itu datang terlambat, tentu saja karena malam-malamnya dihabiskan untuk merutuki wanita yang telah menggerus harta kekayaannya. “Ck, kalau tidak dipaksa kakak. Aku ogah-ogahan menonton pertadingan bocah ingusan ini,” umpatnya, membanting pintu mobil, hasil meminjam dari rental. Kemudian ia masuk, celingukan seperti pria bodoh yang usianya telah dilalap zaman, mencari sekiranya dimanakah kursi yang tersisa kosong. Podium terbagi menjadi dua sisi, tempat ia duduk saat ini ialah sisi lawan sedangkan disebrangsana adalah sisi tim tuan rumah. Alias tim basket sekolah, Evan. ‘Aku harap pertadingan cepat selesai, setelahnya aku bisa lanjut —’ disela Jay menggerutu dalam hatinya, manik elangnya menangkap jelas, ada keberadaan kamu di sebarang sana. Ada raut kebingungan, ‘serius itu mantan istri ku?, kenapa dia ada disini sekarang?, dia punya anak?!’ ribuan tanda tanya berjejalan dibenak Jay, situasi semacam ini sulit ia cerna. Sedangkan kamu hanya fokus mendukung Evan, memberi seruan semangat seolah kamu tidak mau kalah dari gadis muda itu. ‘Apa dia udah nikah lagi?, gak mungkin anaknya seumuran sama keponakan ku,’ pikirnya, tanpa ada inisiatif untuk fokus pada keponakannya saja. Goal pertama dan kedua jadi poin yang telah dikantongi oleh pihak tuan rumah, Evan mungkin bukan kaptennya, tetapi ialah anggota baru yang bisa diandalkan dalam pertandingan. Tinggal tersisa satu kesempatan untuk tim lawan membalikkan keadaan, jika tetap tidak bisa. Maka hari ini pemenangnya adalah sang tuan rumah. Dari atas sana kamu dapat melihat betapa Evan mati-matian menahan agar formasi tim tetap pada posisinya masing-masing, dengan strategi yang telah mereka pelajari sang kapten percaya bahwa pertandingan akhir akan berjalan lebih cepat dari pada prediksi. |